Berawal Dari Sebuah Pertanyaan
Ternyata
sumber masalahnya ada pada satu mata rantai yang hilang dalam proses
pembelajaran. Itulah yang kurang ketika seseorang belajar hanya duduk
mendengarkan apa yang disampaikan seorang penceramah dipengajian,
menghadiri seminar, membaca buku, atau menonton video. Banyak orang
memang terlihat senang dan menikmati pengetahuan yang mereka dapatkan,
namun bila diamati dalam kehidupan sehari-hari tidak terlihat adanya
penerapan pengetahuan. Sepertinya ada jurang pemisah antara mengetahui
dan melaksanakan.
Ada tiga hal yang menyebabkan orang yang
belajar namun tidak memulai menerapkan apa yang ia ketahui. Pertama,
kelebihan informasi atau mengalami overdosis pengetahuan. Banyak orang
terjebak disini, karena membaca buku baru, menonton video baru,
menghadiri seminar baru adalah hal yang mudah. Pengetahuan datang dengan
mudah tetapi tidak membawa perubahan pada prilaku. Lebih menyenangkan
mendapatkan pengetahuan baru dari pada menerapkannya.
Yang
kedua, banyak orang yang menderita gangguan sidrom berfikir negatif .
Setiap kali mempelajari sesuatu yang positif, bahkan tentang diri
sendiri, mereka akan mengabaikan atau membuangnya. Sikap negatif ini
akan terus menghalangi kemajuan mereka dan seperti yang kita tahu sikap
seperti ini akan sangat sulit diubah bila bukan penderitanya sendiri
yang mengubahnya. Tanpa sikap positif terutama dalam belajar, maka
seseorang tidak akan bisa menghilangkan jarak antara mengetahui dan
bertindak.Dan penyebab yang ketiga adalah, tidak adanya follow up atau
tidak lanjut dari apa yang ketahui. Kebanyakan orang yang belajar tidak
tahu bagaimana cara menindaklanjuti apa yang telah mereka ketahui, jadi
wajar saja bila pengetahuan tersebut tidak dapat di realisasikan dalam
kehidupannya.
Nah kunci untuk mengatasi masalah ini adalah, Pengulangan. Ya
pengulangan adalah mata rantai yang hilang dalam proses pembelajaran
seorang manusia. Seseorang lebih suka mencari informasi baru tanpa ada
jeda untuk mengulang dan mempelajarinya lebih dalam lalu
mempraktekannya. Kebiasaan menghadiri seminar atau pengajian untuk satu
materi pembahasan atau membaca suatu judul buku satu kali saja untuk
mendapatkan infirmasi baru hanya akan membangun kebiasaan melupakan
sesuatu. Karena fikiran setiap manusia terus-menerus melakukan salah
satu dari dua hal ini : mempelajari sesuatu yang baru atau
melupakannya. Kalau ia mengabaikan sesuatu maka akan segera
melupakannya. Kalau ia memfokuskan diri pada sesuatu dengan metode
pengulangan amak ia akan terus mengingatnya.
Ketika Murid Bertanya Pada Gurunya
Tentunya
tidak lepas dari ingatan kita tentang cerita Muhammad Syuja’ yang
bertanya kepada sang guru, KH. Ahmad Dahlan. Tentang mengapa dari waktu
kewaktu hanya mengulang-ulang pembahasan surat Al-Ma’un dan tidak
beranjak untuk mempelajari surat lainnya, padahal ada 114 surat didalam
Al-Qur’an. Sang guru balik bertanya “apakah kamu benar-benar memahami
surat ini?” Muhammad Syuja’ menjawab bahwa ia dan teman-temannya sudah
paham betul arti surat tersebut dan mengahafalnya diluar kepala. Kemudia
sang guru bertanya lagi “apakah kamu sudah mengamalkannya?” Jawab
Muhammad Syuja’ “bukankah kami membaca surat ini berulang kali ketika
sholat?”
Sang guru lalu menjelaskan bahwa maksud
mengamalkan surat Al-Ma’un bukan menghafal atau membaca, tetapi lebih
penting dari itu semua, adalah melaksanakan pesan surat Al-Ma’un dalam
bentuk amalan nyata. “oleh karena itu” lanjut sang guru “setiap orang
harus keliling kota untuk mencari anak-anak yatim, bawa mereka pulang
kerumah, berikan sabun untuk mandi, pakaian yang pantas, makanan dan
minuman, serta berikn mereka tempat tinggal yang layak. Untuk itu
pelajaran ini kita tutup, dan laksanakan apa yang telah saya perintahkan
kepada kalian”
KH. Ahmad Dahlan telah menerapkan metode
pengulangan dalam belajar bersama para murid-muridnya. Bahkan
menurutnya, dalam mempelajari Al-Qur’an umat islam tidak boleh beranjak
kepada ayat berikutnya sampai ia benar-benar paham arti dan tafsirnya
hingga dapat mempraktekan pesan ayat tersebut dalam kehidupan
sehari-hari.
Sekarang aku paham bahwa semakin banyak
informasi yang terus silih berganti keluar masuk kedalam fikiran maka
semakin besar peluangnya untuk tidak dilaksanakan. Namun bukan berarti
setiap pegajian atau seminar yang dihadiri, buku yang dibaca, atau video
yang dilihat tidak berarti apa-apa. Hanya akan lebih maksimal bila
semua itu dilakukan tidak hanya sekali. Namun berkali-kali dalm proses
pengulangan hingga kita tidak hanya paham secara teori tetapi juga mampu
melaksanakannya didalam tindakan nyata. Belajar sedikit pengetahuan
tatapi sering lebih baik dari pada belajar banyak pengetahuan tetapi
jarang.
Goreskan Tintamu Untuk Menyampaikan Pesan Penting!
Sumber Bacaan :
- Know Can Do! Menerapkan Pengetahuan Anda Kedalam Tindakan
- Teologi Pembaharuan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar