Rabu, 27 Juni 2012

Aku Menemukan Mata Rantai Yang Hilang


Berawal Dari Sebuah Pertanyaan

Sudah lama aku bertanya-tanya mengapa banyak orang yang belajar namun hasil dari belajar itu hanya sampai pada mengetahui dan tidak berlanjut pada pelaksanaan? Padahal proses belajar sesungguhnya melibatkan perubahan prilaku, karena belajar adalah suatu perjalanan dari mengetahui ke melaksanakan. Namun banyak orang yang mendapat pengetahuan baik dari pengajian atau seminar yang diikuti, buku yang dibaca, video yang ditonton dan lainnya belum mamu memaksimalkan pengetetahuannya pada tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Ternyata sumber masalahnya ada pada satu mata rantai yang hilang dalam proses pembelajaran. Itulah yang kurang ketika seseorang belajar hanya duduk mendengarkan apa yang disampaikan seorang penceramah dipengajian, menghadiri seminar, membaca buku, atau menonton video. Banyak orang memang terlihat senang dan menikmati pengetahuan yang mereka dapatkan, namun bila diamati dalam kehidupan sehari-hari tidak terlihat adanya penerapan pengetahuan. Sepertinya ada jurang pemisah antara mengetahui dan melaksanakan.

Ada tiga hal yang menyebabkan orang yang belajar namun tidak memulai menerapkan apa yang ia ketahui. Pertama, kelebihan informasi atau mengalami overdosis pengetahuan. Banyak orang terjebak disini, karena membaca buku baru, menonton video baru, menghadiri seminar baru adalah hal yang mudah. Pengetahuan datang dengan mudah tetapi tidak membawa perubahan pada prilaku. Lebih menyenangkan mendapatkan pengetahuan baru dari pada menerapkannya.

Yang kedua, banyak orang yang menderita gangguan sidrom berfikir negatif . Setiap kali mempelajari sesuatu yang positif, bahkan tentang diri sendiri, mereka akan mengabaikan atau membuangnya. Sikap negatif ini akan terus menghalangi kemajuan mereka dan seperti yang kita tahu sikap seperti ini akan sangat sulit diubah bila bukan penderitanya sendiri yang mengubahnya. Tanpa sikap positif terutama dalam belajar, maka seseorang tidak akan bisa menghilangkan jarak antara mengetahui dan bertindak.Dan penyebab yang ketiga adalah, tidak adanya follow up atau tidak lanjut dari apa yang  ketahui. Kebanyakan orang yang belajar tidak tahu bagaimana cara menindaklanjuti apa yang telah mereka ketahui, jadi wajar saja bila pengetahuan tersebut tidak dapat di realisasikan dalam kehidupannya.

Nah kunci untuk mengatasi masalah ini adalah, Pengulangan. Ya pengulangan adalah mata rantai yang hilang dalam proses pembelajaran seorang manusia. Seseorang lebih suka mencari informasi baru tanpa ada jeda untuk mengulang dan mempelajarinya lebih dalam lalu mempraktekannya. Kebiasaan menghadiri seminar atau pengajian untuk satu materi pembahasan atau membaca suatu judul buku satu kali saja untuk mendapatkan infirmasi baru hanya akan membangun kebiasaan melupakan sesuatu. Karena fikiran setiap manusia terus-menerus melakukan salah satu dari dua hal ini : mempelajari sesuatu  yang baru atau melupakannya. Kalau ia mengabaikan sesuatu maka akan segera melupakannya. Kalau ia memfokuskan diri pada sesuatu dengan metode pengulangan amak ia akan terus mengingatnya.

Ketika Murid Bertanya Pada Gurunya

Tentunya tidak lepas dari ingatan kita tentang cerita Muhammad Syuja’ yang bertanya kepada sang guru, KH. Ahmad Dahlan. Tentang mengapa dari waktu kewaktu hanya mengulang-ulang pembahasan surat Al-Ma’un dan tidak beranjak untuk mempelajari surat lainnya, padahal ada 114 surat didalam Al-Qur’an. Sang guru balik bertanya “apakah kamu benar-benar memahami surat ini?” Muhammad Syuja’ menjawab bahwa ia dan teman-temannya sudah paham betul arti surat tersebut dan mengahafalnya diluar kepala. Kemudia sang guru bertanya lagi “apakah kamu sudah mengamalkannya?” Jawab Muhammad Syuja’ “bukankah kami membaca surat ini berulang kali ketika sholat?”

Sang guru lalu menjelaskan bahwa maksud mengamalkan surat Al-Ma’un  bukan menghafal atau membaca, tetapi lebih penting dari itu semua, adalah melaksanakan pesan surat Al-Ma’un dalam bentuk amalan nyata. “oleh karena itu” lanjut sang guru “setiap orang harus keliling kota untuk mencari anak-anak yatim, bawa mereka pulang kerumah, berikan sabun untuk mandi, pakaian yang pantas, makanan dan minuman, serta berikn mereka tempat tinggal yang layak. Untuk itu pelajaran ini kita tutup, dan laksanakan apa yang telah saya perintahkan kepada kalian”

KH. Ahmad Dahlan telah menerapkan metode pengulangan dalam belajar bersama para murid-muridnya. Bahkan menurutnya, dalam mempelajari Al-Qur’an umat islam tidak boleh beranjak kepada ayat berikutnya sampai ia benar-benar paham arti dan tafsirnya hingga dapat mempraktekan pesan ayat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Sekarang aku paham bahwa semakin banyak informasi yang terus silih berganti keluar masuk kedalam fikiran maka semakin besar  peluangnya untuk tidak dilaksanakan. Namun bukan berarti setiap pegajian atau seminar yang dihadiri, buku yang dibaca, atau video yang dilihat tidak berarti apa-apa. Hanya akan lebih maksimal bila semua itu dilakukan tidak hanya sekali. Namun berkali-kali dalm proses pengulangan hingga kita tidak hanya paham secara teori tetapi juga mampu melaksanakannya didalam tindakan nyata. Belajar sedikit pengetahuan tatapi sering lebih baik dari pada belajar banyak pengetahuan tetapi jarang.

Goreskan Tintamu Untuk Menyampaikan Pesan Penting!


Sumber Bacaan :
-         Know Can Do! Menerapkan Pengetahuan Anda Kedalam Tindakan
-         Teologi Pembaharuan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar