Jumat, 29 Juni 2012

ANTARA AKU DAN MALCOLM X


Malcolm X. Sebelas tahun yang lalu aku belum mengenalnya dengan baik. Aku belum tahu bahwa dia adalah tokoh besar yang pernah hadir dibumi ini. Aku tidak pernah menyangka bahwa dia adalah seorang muslim dan aktivis pembela kaumnya, para Afro - Amerika yang mendapat perlakuan diskriminasi di Amerika Serikat karena berkulit hitam. Namanya terkenal diseluruh penjuru bumi, aksinya membela kaum Afro-Amerika tanpa memandang agama, status sosial dan lain sebagainya telah menggugah kaumnya untuk bersatu, bangkit dari ketertindasan dan berani melawan berbagai bentuk diskriminasi. Walaupun dia harus membayar apa yang telah ia perjuangkan dengan nyawanya. Ya diusia yang masih sangat muda, 39 tahun adalah akhir dari perjuangan dan hidup seorang Malcolm X. Nyawanya berakhir diujung peluru tiga orang yang menembaknya pada saat akan memberi ceramah disebuah hotel di New York. Sungguh ironis karena tiga orang yang menembak itu juga adalah Afro-Amerika yang selama ini ia perjuangkan hak-haknya. Tidak ada yang tahu siapa dan apa motif dibalik kematiannya. Namun mimpi yang selama hidup ia perjuangkan, menyebarkan menyebarkan visi antirasisme dan nilai-nilai Islam yang humanis, telah menggugah kalangan Afro-Amerika dan dunia. Banyak cerita tentang hidup dan perjuangannya diungkap didalam buku Otobiografi Malcolm X, bahkan Warner bersaudara telah membuat film tentang dirinya.

Antara aku dan Malcolm X tentunya sangat jauh berbeda. Tidak ada sejarah yang menyebutkan bahwa kami adalah saudara kandung yang terpisah (hehehe). Apa yang telah ia perjuangkan membuatku berfikir bahwa aku saat ini, tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan dirinya. Namun ada hal menarik yang membuatku sadar bahwa ternyata ada secuil kisah hidup kami yang sangat mirip. Aku menyadari itu sebelas tahun yang lalu, saat aku pertama kali membaca kisah masa kecilnya pada salah satu majalah islam yang terkenal di negara ini. Dari kisah itu ku ketahui bahwa kami berdua adalah anak-anak yang beruntung, dikandung, dilahirkan dan dibesarkan oleh wanita-wanita hebat. Malcolm X beruntung memiliki Louise Little sebagai ibunya dan aku beruntung memiliki Ponirah sebagai mamakku. Dan kisah itu akan ku ceritakan disini.

Sebelas tahun yang lalu, aku adalah anak kelas dua SMP yang masih terkungkung oleh rasa malu dan minder yang sangat parah. Banyak orang sering mengomentari fisikku yang dianggap mereka jelek, Kulitku yang gelap, bibirku yang tebal, mulutku yang tidak bisa menyebut huruf 'r' secara sempurna, bicaraku yang sering gagap dan masih banyak lagi. Orang-orang itu selalu punya bahan olokan yang membuat siapapun melihatku dan mendengar mereka mengolokku akan tertawa terbahak-bahak. Seolah-olah ada penampilan komedi super lucu yang saat itu sedang tayang dihadapan mereka.

Semua yang mereka nilai dari fisikku bagai belati tajam bermata dua yang setiap saat membunuh rasa percaya diriku. Apapun yang aku lakukan, baik itu salah atau pun benar komentar mereka selalu berhubungan dengan masalah fisik. Seperti ketika aku bermain sepak bola dan lariku lambat karena kelelahan, mereka berkata "hahaha keberatan bibir tuh makanya lambat larinya" atau ketika aku mendapat nilai bagus dalam mata pelajaran mereka berkata "Seeh si hitam dapat nilai tinggi lah". Komentar mereka tentang fisik telah membuatku menjadi seorang yang rendah diri, penyendiri yang jauh dari kehidupan sosial, pemarah, pendendam dan cengeng. Bahkan aku sempat berfikir untuk melakukan apapun agar tidak menjadi bahan olokan orang lain, termasuk memotong bibirku yang tebal.

Namun semuanya berubah pada sore itu. Aku yang pulang sekolah dalam keadaan marah dan menangis disambut oleh mamak yang dari tadi menungguku diteras rumah. Mamak adalah satu-satunya orang yang selalu berhasil membuatku bicara dan mengungkapkan apa yang kurasakan. Padahal aku adalah anak yang pendiam dan selalu menyimpan masalahku agar orang lain tidak tahu. Namun aku selalu saja kalah bila berhadapan dengan mamak, dengan kelembutannya mamak selalu saja berhasil membuatku berbicara bahkan tanpa ia minta. Mamaklah yang lebih paham tentang aku selain diriku sendiri. Sore itu rupanya mamak sengaja menungguku, seolah-olah ia tahu bahwa anaknya sedang menghadapi masalah berat dan memerlukan sambutan hangat yang mungkin dapat melegakan hati. Dan ketika aku telah berada dihadapannya, tanpa bertanya mamak langsung berkata

"sudahlah nak, jangan terlalu difikirkan apa yang orang-orang bilang tentang fisikmu ataupun apa saja yang mereka bicarakan tentang dirimu dan itu menyakitkan hati. Syukuri saja apa yang Allah berikan, sabar saja menghadapi orang-orang yang menghinamu, karena itu lebih baik. Kan kalau kita bersyukur Allah akan menambahkan Nikmat-Nya. Siapa tahu dengan fisikmu yang sekarang kamu akan jadi orang hebat dimasa akan datang dan bibirmu yang selalu diolok-olok itu akan menjadi penyampai kebenaran. Sekarang rajinlah belajar agar nanti kamu bisa jadi orang yang berguna"

Aku yang tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu keluar langsung dari mulut mamak merasakan gemuruh dihati. Mulutku terkunci, badanku bergetar dan air mata perlahan menetes. Apa yang disampaikan mamak itu bagaikan busur panah yang menghujam jantung kesadaranku sebagai manusia, membuat semua masalah yang kuhadapi sirna tanpa bekas bersama marah dan dendamku. Aku seperti menjadi manusia baru yang merdeka, terlepas dari semua bentuk penjajahan kata-kata negatif yang perlahan dapat menghancurkan hidup. Kata-kata mamak membuatku sadar bahwa mulai sore ini aku harus bangkit dari keterpurukan untuk selama-lamanya. Dan, dua hari setelah sore itu, aku baru tahu bahwa seorang Malcolm X juga mengalami masalah yang sama denganku dan juga bangkit karena ibunya.

Dua hari setelah sore itu, aku duduk diteras belakang rumah kami, membolak-balik majalah dan mataku tertuju pada lembaran yang memuat cerita tentang seorang anak negro yang selalu pulang kerumah dalam keadaan menangis karena selalu diolok-olok tentang kulitnya yang hitam, bibirnya yang tebal, ras kulit hitam yang terbelakang dan tertindas. Namum dia juga memiliki ibu yang sama dengan mamakku. Selalu sabar mendengar keluhan anaknya, menenangkan saat gundah, dan satu hal yang membuatku terkejut adalah saat ibunya juga berkata hampir  sama seperti apa yang mamakku katakan.  

"Sabarlah mengahadapi mereka yang mengatakan seperti itu kepadamu, siapa tahu kelak kau akan jadi orang hebat, pembela kaum tertindas dan bibir tebalmu akan selalu menyampaikan kebanaran"

Orang hebat selalu memiliki ibu yang lebih hebat. Aku selalu kagum pada mamakku dan pada wanita-wanita yang dari rahimnya dan dari kasih sayangnya, hadir orang-orang hebat, karena pastinya ia adalah ibu yang hebat. Sore itu adalah awal dari kehidupanku yang baru, tanpa rasa malu aku terus melangkah ditengah komentar orang-orang tentang fisikku. Aku mulai terbiasa untuk tidak marah dan sakit hati. Aku menikmati segala macam aktifitas dengan rasa percaya diri, terserah orang mau bilang apa, yang penting aku akan membuktikan pada siapapun bahwa aku yang lahir dari rahim wanita hebat ini akan terus berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, itu yang menurutku lebih penting.

Terima kasih mamak, bila saja tidak tersampaikan kata-kata itu, maka aku akan tetap menjadi manusia yang terkungkung oleh rasa percaya diri yang rendah dan perlahan mati. Seperti matinya sebuah pohon dipulau solomon yang bukan karena ditebang, tetapi mati karena kata-kata kasar dan buruk penduduk setempat yang mengelilingi lalu menghujatnya bersama-sama.

Bila saja sore itu mamak tidak membuatku sadar untuk bangkit dari keterpurukan, maka tidak ada semangatku untuk hidup, belajar, membaca buku, bersosialisasi, menjelajahi bumi dan berusaha menjadikan diri ini bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar