Malcolm
X. Sebelas tahun yang lalu aku belum mengenalnya dengan baik. Aku belum
tahu bahwa dia adalah tokoh besar yang pernah hadir dibumi ini. Aku
tidak pernah menyangka bahwa dia adalah seorang muslim dan aktivis
pembela kaumnya, para Afro - Amerika yang mendapat perlakuan
diskriminasi di Amerika Serikat karena berkulit hitam. Namanya terkenal
diseluruh penjuru bumi, aksinya membela kaum Afro-Amerika tanpa
memandang agama, status sosial dan lain sebagainya telah menggugah
kaumnya untuk bersatu, bangkit dari ketertindasan dan berani melawan
berbagai bentuk diskriminasi. Walaupun dia harus membayar apa yang telah
ia perjuangkan dengan nyawanya. Ya diusia yang masih sangat muda, 39
tahun adalah akhir dari perjuangan dan hidup seorang Malcolm X. Nyawanya
berakhir diujung peluru tiga orang yang menembaknya pada saat akan
memberi ceramah disebuah hotel di New York. Sungguh ironis karena tiga
orang yang menembak itu juga adalah Afro-Amerika yang selama ini ia
perjuangkan hak-haknya. Tidak ada yang tahu siapa dan apa motif dibalik
kematiannya. Namun mimpi yang selama hidup ia perjuangkan, menyebarkan
menyebarkan visi antirasisme dan nilai-nilai Islam yang humanis, telah
menggugah kalangan Afro-Amerika dan dunia. Banyak cerita tentang hidup
dan perjuangannya diungkap didalam buku Otobiografi Malcolm X, bahkan
Warner bersaudara telah membuat film tentang dirinya.
Antara
aku dan Malcolm X tentunya sangat jauh berbeda. Tidak ada sejarah yang
menyebutkan bahwa kami adalah saudara kandung yang terpisah (hehehe).
Apa yang telah ia perjuangkan membuatku berfikir bahwa aku saat ini,
tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan dirinya. Namun ada hal
menarik yang membuatku sadar bahwa ternyata ada secuil kisah hidup kami
yang sangat mirip. Aku menyadari itu sebelas tahun yang lalu, saat aku
pertama kali membaca kisah masa kecilnya pada salah satu majalah islam
yang terkenal di negara ini. Dari kisah itu ku ketahui bahwa kami berdua
adalah anak-anak yang beruntung, dikandung, dilahirkan dan dibesarkan
oleh wanita-wanita hebat. Malcolm X beruntung memiliki Louise Little
sebagai ibunya dan aku beruntung memiliki Ponirah sebagai mamakku. Dan
kisah itu akan ku ceritakan disini.
Sebelas tahun yang
lalu, aku adalah anak kelas dua SMP yang masih terkungkung oleh rasa
malu dan minder yang sangat parah. Banyak orang sering mengomentari
fisikku yang dianggap mereka jelek, Kulitku yang gelap, bibirku yang
tebal, mulutku yang tidak bisa menyebut huruf 'r' secara sempurna,
bicaraku yang sering gagap dan masih banyak lagi. Orang-orang itu selalu
punya bahan olokan yang membuat siapapun melihatku dan mendengar mereka
mengolokku akan tertawa terbahak-bahak. Seolah-olah ada penampilan
komedi super lucu yang saat itu sedang tayang dihadapan mereka.
Semua
yang mereka nilai dari fisikku bagai belati tajam bermata dua yang
setiap saat membunuh rasa percaya diriku. Apapun yang aku lakukan, baik
itu salah atau pun benar komentar mereka selalu berhubungan dengan
masalah fisik. Seperti ketika aku bermain sepak bola dan lariku lambat
karena kelelahan, mereka berkata "hahaha keberatan bibir tuh makanya
lambat larinya" atau ketika aku mendapat nilai bagus dalam mata
pelajaran mereka berkata "Seeh si hitam dapat nilai tinggi lah".
Komentar mereka tentang fisik telah membuatku menjadi seorang yang
rendah diri, penyendiri yang jauh dari kehidupan sosial, pemarah,
pendendam dan cengeng. Bahkan aku sempat berfikir untuk melakukan apapun
agar tidak menjadi bahan olokan orang lain, termasuk memotong bibirku
yang tebal.
Namun semuanya berubah pada sore itu. Aku yang
pulang sekolah dalam keadaan marah dan menangis disambut oleh mamak
yang dari tadi menungguku diteras rumah. Mamak adalah satu-satunya orang
yang selalu berhasil membuatku bicara dan mengungkapkan apa yang
kurasakan. Padahal aku adalah anak yang pendiam dan selalu menyimpan
masalahku agar orang lain tidak tahu. Namun aku selalu saja kalah bila
berhadapan dengan mamak, dengan kelembutannya mamak selalu saja berhasil
membuatku berbicara bahkan tanpa ia minta. Mamaklah yang lebih paham
tentang aku selain diriku sendiri. Sore itu rupanya mamak sengaja
menungguku, seolah-olah ia tahu bahwa anaknya sedang menghadapi masalah
berat dan memerlukan sambutan hangat yang mungkin dapat melegakan hati.
Dan ketika aku telah berada dihadapannya, tanpa bertanya mamak langsung
berkata
"sudahlah nak, jangan terlalu difikirkan apa yang
orang-orang bilang tentang fisikmu ataupun apa saja yang mereka
bicarakan tentang dirimu dan itu menyakitkan hati. Syukuri saja apa yang
Allah berikan, sabar saja menghadapi orang-orang yang menghinamu,
karena itu lebih baik. Kan kalau kita bersyukur Allah akan menambahkan
Nikmat-Nya. Siapa tahu dengan fisikmu yang sekarang kamu akan jadi orang
hebat dimasa akan datang dan bibirmu yang selalu diolok-olok itu akan
menjadi penyampai kebenaran. Sekarang rajinlah belajar agar nanti kamu
bisa jadi orang yang berguna"
Aku yang tidak menyangka
akan mendengar kata-kata itu keluar langsung dari mulut mamak merasakan
gemuruh dihati. Mulutku terkunci, badanku bergetar dan air mata perlahan
menetes. Apa yang disampaikan mamak itu bagaikan busur panah yang
menghujam jantung kesadaranku sebagai manusia, membuat semua masalah
yang kuhadapi sirna tanpa bekas bersama marah dan dendamku. Aku seperti
menjadi manusia baru yang merdeka, terlepas dari semua bentuk penjajahan
kata-kata negatif yang perlahan dapat menghancurkan hidup. Kata-kata
mamak membuatku sadar bahwa mulai sore ini aku harus bangkit dari
keterpurukan untuk selama-lamanya. Dan, dua hari setelah sore itu, aku
baru tahu bahwa seorang Malcolm X juga mengalami masalah yang sama
denganku dan juga bangkit karena ibunya.
Dua hari setelah
sore itu, aku duduk diteras belakang rumah kami, membolak-balik majalah
dan mataku tertuju pada lembaran yang memuat cerita tentang seorang anak
negro yang selalu pulang kerumah dalam keadaan menangis karena selalu
diolok-olok tentang kulitnya yang hitam, bibirnya yang tebal, ras kulit
hitam yang terbelakang dan tertindas. Namum dia juga memiliki ibu yang
sama dengan mamakku. Selalu sabar mendengar keluhan anaknya, menenangkan
saat gundah, dan satu hal yang membuatku terkejut adalah saat ibunya
juga berkata hampir sama seperti apa yang mamakku katakan.
"Sabarlah
mengahadapi mereka yang mengatakan seperti itu kepadamu, siapa tahu
kelak kau akan jadi orang hebat, pembela kaum tertindas dan bibir
tebalmu akan selalu menyampaikan kebanaran"
Orang hebat
selalu memiliki ibu yang lebih hebat. Aku selalu kagum pada mamakku dan
pada wanita-wanita yang dari rahimnya dan dari kasih sayangnya, hadir
orang-orang hebat, karena pastinya ia adalah ibu yang hebat. Sore itu
adalah awal dari kehidupanku yang baru, tanpa rasa malu aku terus
melangkah ditengah komentar orang-orang tentang fisikku. Aku mulai
terbiasa untuk tidak marah dan sakit hati. Aku menikmati segala macam
aktifitas dengan rasa percaya diri, terserah orang mau bilang apa, yang
penting aku akan membuktikan pada siapapun bahwa aku yang lahir dari
rahim wanita hebat ini akan terus berusaha menjadi manusia yang
bermanfaat bagi orang lain, itu yang menurutku lebih penting.
Terima
kasih mamak, bila saja tidak tersampaikan kata-kata itu, maka aku akan
tetap menjadi manusia yang terkungkung oleh rasa percaya diri yang
rendah dan perlahan mati. Seperti matinya sebuah pohon dipulau solomon
yang bukan karena ditebang, tetapi mati karena kata-kata kasar dan buruk
penduduk setempat yang mengelilingi lalu menghujatnya bersama-sama.
Bila
saja sore itu mamak tidak membuatku sadar untuk bangkit dari
keterpurukan, maka tidak ada semangatku untuk hidup, belajar, membaca
buku, bersosialisasi, menjelajahi bumi dan berusaha menjadikan diri ini
bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar